Kisah Warsiah dan 5 Metode Bimbing Siswa Membaca

Namanya sempat memenuhi berbagai surat kabar dan media online berkat metode pengajaran yang dilakukannya kepada anak didik. Ibu Warsiah, seorang Kepala SDN 013 Ds. Bulu Perindu, Kec. Tanjung Selor, Provinsi Kalimantan Utara. Sebelumnya, beliau dan beberapa rekan guru dari sekolahnya mendapatkan laporan siswa tamatannya belum lancar membaca ketika sudah di bangku SMP.

Untuk mengatasinya, Ibu Warsiah selaku kepala sekolah sekaligus fasilitator untuk program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia di Bulungan, kemudian mengembangkan bimbingan. Layanan atau bimbingan tersebut dimulai dengan melakukan identifikasi siswa yang tidak bisa membaca di tingkat SD.

 

5 Metode Yang DigagaS Oleh Warsiah

Terdapat 5 metode pembelajaran yang dilakukan agar siswa bisa lancar membaca. Berikut ini 5 metode tersebut, diantaranya:

 

Melakukan Observasi Melalui Buku Cerita

Pada metode ini, Warsiah akan masuk ke kelas dan melakukan tes membaca pada para siswa. Jika dulu buku yang digunakan adalah buku teks pembelajaran, kini beliau menggantinya dengan buku cerita atau dongeng. Anak yang memang masih kesulitan dalam membaca akan sangat lama mengeja kalimat. Bisa juga siswa menyebut huruf dengan tidak teratur.

Untuk observasi ini, Warsiah membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Setelah waktu 2 minggu tersebut maka akan terlihat siapa saja siswa yang belumĀ  lancar membaca.

Mengelompokkan Masalah Membaca

Ketika proses observasi selesai, Warsiah akan memisahkan para siswa sesuai dengan masalah membaca. Beliau juga meminta guru kelas untuk tidak melibatkan siswa yang belum bisa membaca dalam pembelajaran.

Hal ini diakarenakan akan percuma mengingat anak berarti belum bisa mengikuti pelajaran karena tidak bisa menangkap materi yang diajarkan.

Anak-anak tersebut justru akan diberikan bimbingan khusus agar bisa segera menyusul ketertinggalannya dengan teman-teman. Dengan begitu maka anak-anak bisa mengejar ketertinggalan mereka di kelas karena sudah lancar membaca. Mereka juga akan mengikuti proses belajar mengajar kembali, begitu bimbingan khusus sudah selesai dilakukan.

Berawal Dari Kartu Baca Lalu Beralih Ke Buku Besar

Bimbingan khusus yang diberikan kepada siswa dilakukan secara bertahap. Anak yang tidak bisa mengeja akan diperkenalkan terlebih dahulu kartu huruf atau kartu kata selama kurang lebih satu minggu. Jika sudah maka akan dikenalkan dengn bunyi huruf dan diminta membunyikannya.

Pada proses ini setidaknya membutuhkan waktu hingga 2 minggu untuk anak benar-benar mengenal bunyi huruf. Jika sudah lancar anak akan dikenalkan pada buku gambar untuk memudahkan dan selanjutnya bisa beralih ke buku besar.

Menciptakan Suasana Belajar Yang Menyenangkan

Metode selanjutnya yang dilakukan oleh Warsiah adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa. Anak akan diminta menceritakan ulang dari buku yang sudah dibacanya dengan tujuan agar mengetahui seberapa dalam pehamanan anak tentang buku tersebut.

Agar tidak bosan, Warsiah berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan.

Anak-anak juga diijinkan untuk melepas penat dengan bermain jika hal itu memang diperlukan. Dengan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan tentu akan membuat anak lebih mudah menangkap materi yang diajarkan.

Memberikan Bimbingan Sesuai Dengan Gaya Belajar Anak

Setiap anak bisa menjadi pandai jika dilayani sesaui dengan gaya belajar masing-masing. Dalam hal ini berarti , baik guru, orangtua tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada anak. Hal ini karena secara tidak langsung akan menekan anak dan justru membuat mereka menjadi tidak nyaman dalam belajar.

Pada metode ini, Warsiah melakukan pendekatan secara personal dan tidak berusaha memaksa kepada anak didiknya. Dengan begitu akan muncul kesadaran sendiri bagi siswa untuk lebih giat belajar.

Nah itulah 5 metode yang diterapkan oleh Warsiah dalam rangka memberikan bimbingan khusus pada siswa. Satu hal yang paling penting untuk diketahui, bahwa anak-anak tidak bisa dipaksa dan tidak bisa dihadapi dengan kekerasan.

Dengan melakukan pendekatan yang lebih halus akan membuat siswa menjadi termotivasi untuk lebih giat belajar, terutama membaca.